Kedudukan Wanita dalam Islam (1)
Posted by hendra supriyanto on Wednesday, August 1, 2012
Under: dakwah
Assalamualaikum.
Pada kesempatan ini penulis coba hadirkan tulisan tentang peran ataupun kedudukan wanita dalam islam.Dalih
emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan
wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang
dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis
perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. "Pemberdayaan
perempuan", "kesetaraan gender", "kungkungan budaya patriarkhi" adalah
sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita
Islam.
Wanita Di Masa Jahiliyah
Wanita
dimasa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah ) pada umumnya tertindas
dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak
menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia.
Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi
sang ayah bila memiliki anak perempuan.
Sebagian
mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup
tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta
warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah berfirman (artinya): "Dan
apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak
perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia
menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita
yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung
kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?
Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." (An Nahl:
58-59).
Islam Menjunjung Martabat Wanita
Dienul
Islam sebagai rahmatal lil'alamin, menghapus seluruh bentuk
kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya
sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat
di sisi Allah adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al
Hujurat: 33).
Lebih
dari itu Allah menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):
"Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan." (An Nahl: 97)
Ambisi Musuh-Musuh Islam Untuk Merampas Kehormatan Wanita
Dalih
emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan
wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang
dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis
perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. "Pemberdayaan
perempuan", "kesetaraan gender", "kungkungan budaya patriarkhi" adalah
sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita
Islam.
Dikesankan
wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya
dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan
terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan
hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai
tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga
teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah
tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar
wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya
untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun
seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.
Ketahuilah
wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari
musuh-musuh Allah itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah I
berfirman (artinya): "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat
ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak
kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk
memperlihatkan kepada keduanya auratnya." (Al A'raf: 27).
Bersambung......
Bersambung......
In : dakwah